the-book-that-tranforms-nations-l-cunninghamKondisi bangsa dan negara kita yang sampai saat ini masih dijumpai banyak problematika terutama dalam konteks kesejahteraan masyarakat, menjadi tantangan kita bersama baik sebagai umat Kristen maupun warga negara Indonesia. Dalam menjawab tantangan zaman itu, perlu dimunculkan suatu pemahaman tentang bagaimana partisipasi umat Kristen melalui Gereja dan Lembaga Pelayanan untuk turut serta dalam upaya memajukan bangsa kita.

Semangat zaman yang serupa juga tersirat dalam karya Loren Cunningham berjudul “Buku yang Mentransformasi Bangsa-bangsa: Kuasa Alkitab untuk Mengubah Negara” (terj. YWAM Publishing 2010). Buku kelima dari Cunningham ini mencatat bahwa umat Kristen menjadi katalisator utama perubahan suatu bangsa dan negara ke arah yang lebih baik. Melihat arti strategis buku ini, Perhimpunan Pustaka Lewi bersama Ir. Widodo dari MPKW Jatim menggagas forum bedah buku yang diselenggarakan pada 11 September 2014 di Trampil Main Centre dengan menghadirkan Dr. Iman Santoso, sebagai pembedah utama.

Buku ini tidak hanya berisi catatan-catatan reflektif dari Cunningham sebagai hasil perjalanan misinya ke lebih dari 100 negara, tapi juga padat akan informasi tentang problematika di negaranegara. Problematika inilah yang menurutnya juga menjadi tanggungjawab misi Kristen di seluruh dunia. Karena itu, karakteristik dasar kita dalam memegang teguh Firman Tuhan juga harus muncul. Apakah kita ini benar-benar mendapatkan dan memegang teguh Alkitab atau kita nantinya akan benar-benar kehilangan Alkitab.

Loren Cunningham mencatat bahwa di negara-negara seperti Korea Selatan, Jerman, Norwegia, Belanda, Swiss, dan lainnya, Alkitab menjadi landasan dasar untuk menjawab persoalan bangsa.Premis dasar yang diajukan Cunningham adalah bahwa Tuhan sudah memberikan kita prinsip-prinsip dasar yang menjadi kunci bagi setiap permasalahan yang dihadapi manusia baik secara personal maupun keberadaannya dalam komunitas negara-bangsa. Prinsip-prinsip inilah yang harus dioperasionalisasikan dalam ruang-ruang lingkup kehidupan: Art/Media (Seni/Media), Business(Bisnis), Church (Gereja), Delivery of the Poor (Pengentasan Kemiskinan), Education (Pendidikan), Family (Keluarga), dan Government (Pemerintahan).

Sekarang dalam konteks negara-bangsa Indonesia, tantangan bersama dalam ketujuh bidang inilah yang harus dijawab oleh umat Tuhan. Salah satu sumber utama masalah bangsa ini adalah kerakusan yang memunculkan perilaku korupsi, baik di pemerintahan maupun sektor privat. Hasilnya adalah ketidakadilan yang melahirkan keresahan dan nantinya memunculkan revolusi sosial. Tentunya ini bukanlah suatu pola ideal dari suatu negara yang masyarakatnya berkualitas dan takut akan Tuhan.

Dalam diskusi ini ada beberapa catatan penting terkait kontekstualisasi ide-ide Cunningham ini. Pertama adalah hambatan-hambatan apa yang sekarang dihadapi oleh umat Tuhan di Indonesia. Masih kuatnya stigmatisasi mayoritas-minoritas, beragamnya aliran atau denominasi Kristen, sulitnya menyatukan gereja-gereja dan lembaga-lembaga pelayanan adalah hal-hal yang berhasil diidentifikasi. Hal ini adalah permasalahan klasik yang sampai saat ini belum menemukan formulasi penyelesaian atau konsensus yang jelas.

Proses pertama dalam menjawab masalah klasik ini tentunya adalah harus adanya proses penyadaran bersama, suatu revolusi pemikiran yang mampu menyadarkan bahwa permasalahan bangsa hanya bisa diselesaikan apabila umat Tuhan bersatu dalam gerakan.

Kedua adalah bagaimana kita sebagai umat Kristen melakukan karya atau misi di bidang atau ruang lingkup seperti yang dikonsepsikan oleh Cunningham. Bidang-bidang kehidupan seperti pemerintahan (politik), seni, dan media contohnya adalah bidang-bidang yang selama ini belum digarap secara maksimal. Masih ada hambatan-hambatan yang bersifat mental sehingga menghambat potensi Kekristenan menjadi garam dan terang di situ. Perlu juga dicatat bahwa dalam bidang politik dan pemerintahan yang menjadi sentral dari kehidupan bangsa kita sudah ada beberapa umat Tuhan yang hadir sebagai pemimpin, tapi itu tentunya tidak akan berarti banyak apabila tidak didukung.

Dalam ruang lingkup ekonomi, perlu juga mendapat perhatian tentang bagaimana negara kita ini menerapkan sistem ekonomi yang ternyata justru mengeksploitasi sumber daya alam kita. Dalam bidang pendidikan, terjadi situasi yang mencemaskan karena disparitas kualitas sumber daya manusia yang justru muncul di wilayah-wilayah basis Kristen. Akibatnya, wilayah-wilayah ini tidak berkembang secara ekonomi dan muncul isu-isu separatisme yang muncul sebagai akumulasi perasaan ketidakadilan yang diterima.

Kedua hal inilah yang mengemuka dalam diskusi sebagai bahan reflektif dari karya Loren Cunningham. Sebenarnya ada banyak potensi Kekristenan yang tidak berwujud atau terhambat aktualisasinya karena hal-hal yang tidak esensial. Kemampuan dan kualitas umat Tuhan yang tentunya lebih baik dan punya landasan moral dan etika yang teguh seharusnya mampu memimpin bangsa ini dan menjadi role model bagi komunitas-komunitas yang lain.

Untuk lebih memperdalam dan menindaklanjuti hasil-hasil diskusi ini, perlu diadakan diskusi lebih lanjut dengan membahas ketujuh cluster yang sudah dirangkum secara sistematis dan tematis. Ruang lingkup yang didiskusikan nantinya juga bisa dalam batasan ruang lingkup tertentu. Misalnya dalam diskusi bedah buku muncul beberapa identifikasi masalah yang terjadi dalam konteks Kekristenan di Kota Surabaya. Bentuk follow-up yang juga bisa dilakukan adalah memperkenalkan gagasan-gagasan ini dalam bentuk pertemuan dengan pimpinan-pimpinan gereja mainstream di Surabaya yang dilakukan secara bergilir.

Dalam bidang pendidikan misalnya di Kota Surabaya sepuluh tahun terakhir ini muncul tren perkembangan sekolah-sekolah Kristen di tingkat dasar sampai menengah. Beberapa sinode dan gereja-gereja besar mendirikan sekolah mereka sendiri dengan preferensinya sendiri-sendiri. Komunikasi dan kerjasama yang terjadi antar sekolah Kristen dalam mewujudkan visi pendidikan Kristen sebagai salah satu sarana pekabaran Injil sulit terjadi, bahkan terjadi persaingan antar sekolah Kristen. Muncul pula problematika tentang koordinasi program menara doa yang beberapa gerakan lintas gereja/denominasi yang sulit diwujudkan kontinuitasnya.

Inilah poin-poin penting yang kami catat sebagai hasil diskusi bedah buku Loren Cunningham. Ada banyak hal yang dimunculkan dalam diskusi ini, beberapa konsep-konsep yang konstruktif, ada juga beberapa kritisi yang tentunya juga dimunculkan dalam rangka menyempurnakan konsep-konsep yang dirasa masih belum dimaksimalkan.