Pendidikan merupakan salah satu sarana mulia dalam mengembangkan amanat agung kekristenan. Bukan hanya dalam pendidikan rohani umat, tapi juga mempersiapkan jemaat dalam menghadapi tantangan hidup. Dewasa ini sudah mulai timbul banyak berdiri badan pendidikan Kristen, baik yang didirikan oleh yayasan, maupun yang didirikan oleh gereja.

Keberadaan lembaga pendidikan Kristen, yang sebagian besar berada di bawah Gereja, tentu saja mempunyai posisi strategis dalam dunia pendidikan nasional secara umum. Ada sisi positif, tapi ada juga catatan-catatan negatif yang mengiringi keberadaanya yang harus dilihat sebagai sebuah tantangan bersama.

Di bulan Maret 2007 ini, tema pendidikan adalah bahasan utama dalam forum diskusi Pustaka Lewi. Pada hari Jum’at, 9 Maret 2007 ini tema utama diskusi adalah “Lembaga Pendidikan Kristen: Mengemban Amanat Agung Kekristenan.” Bertindak sebagai moderator dalam diskusi ini adalah Hizkia YS Polimpung dari Divisi Litbang Pustaka Lewi. Berikut ini adalah resume dari diskusi yang dilaksanakan di Ruang Rapat BAMAG Surabaya ini.

Pendidikan merupakan salah satu sarana mulia dalam mengembangkan amanat agung kekristenan. Bukan hanya dalam pendidikan rohani umat, tapi juga mempersiapkan jemaat dalam menghadapi tantangan hidup. Dewasa ini sudah mulai timbul banyak berdiri badan pendidikan Kristen, baik yang didirikan oleh yayasan, maupun yang didirikan oleh gereja. Belum lagi jika kita ikut menghitung sekolah Katolik. Soal kuantitas mungkin masih kalah banyak dengan sekolah negeri, tapi soal kualitas jangan diragukan lagi. Sebagian besar sekolah yang menyandang label “Kristen” tersebut standardnya bukan lagi standard nasional, tapi sudah nasional plus-plus, bahkan beberapa mengklaim punya standard internasional.

Para tokoh reformasi juga menekankan betapa pentingnya pendidikan ini, dan berusaha menghilangkan kebodohan umat Kristen[1], terutama dalam konteks mempelajari Alkitab saat itu. Usaha Martin Luther untuk memberantas kebodohan umat dengan menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman supaya banyak dipelajari oleh masyarakat Jerman, serta upaya Calvin dengan Institut Jenewa-nya yang terbukti mampu melahirkan pemikir-pemikir handal Kristen untuk melawan Gerakan Kontra-Reformasi saat itu, memperlihatkan peran penting dari lembaga pendidikan kristen ini.

Pada masa pekabaran Injil mula-mula di Indonesia, pendirian sekolah menjadi salah satu instrumen utama untuk menyebarkan agama Kristen dan Katolik. Tahun 1850, pendeta Riedel dan Schawrz mendirikan sebuah sekolah pendidikan guru (Kweekschool) di Minahasa. Salah satu sekolah Kristen pertama yang tercatat oleh sejarah di Indonesia adalah sekolah Kristen di Mojowarno Jombang yang dibuka oleh Jelle E. Jellesma, tahun 1851[2]. Sekolah partikelir yang memakai sistem full-day mirip pesantren ini melahirkan sejumlah guru Injil yang menjadi cikal bakal GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) di Jawa Timur.

Keberadaan lembaga pendidikan Kristen di Indonesia ini sudah cukup lama dan cukup (kalau bukan sangat) banyak. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang menjadi favorit di kalangan anak Tuhan. Lebih lagi beberapa pengamatan di lapangan menunjukan bahwa saking favoritnya, orang tua – orang tua yang beragama lain pun rela mengikutkan anak-anaknya di kurikulum sekolah-sekolah Kristen tersebut. Prestasinya pun tidak bisa dipandang sebelah mata, beberapa sekolah Kristen turut meramaikan daftar sekolah unggulan di tanah air. Di luar negeri juga tidak sedikit siswa-siswa utusan sekolah Kristen yang mewakili Indonesia menerima penghargaan-penghargaan bergengsi. Inilah prestasi-prestasi lembaga-lembaga pendidikan Kristen di Indonesia.

Siapa yang tidak kenal BPK Penabur[3], yang berdiri di bawah sinode GKI (Gereja Kristen Indonesia), yang sekolahnya terbentang dari Metro sampai Tasikmalaya, dikenal melahirkan juara-juara olimpiade sains, baik di tingkat nasional maupun internasional. Di Jakarta terdapat Yapendik Fajar Sion (Sinode GPIB Bukit Sion), Sekolah Kristen Karunia, Sekolah Kristen Ketapang, dll. Sekolah Kristen Trimulia yang punya empat tingkat sekolah di Bandung. Di Samarinda ada Sekolah Kristen Sunodia. Pada tingkat perguruan tinggi selain UKI (Universitas Kristen Indonesia), ada “Trio Wacana” yang sudah diakui secara nasional keberadaannya, yaitu : Universitas Kristen Krida Wacana (Jakarta), Satya Wacana (Salatiga), dan Duta Wacana (Yogyakarta). Di lingkup Surabaya kita punya badan pendidikan Kristen Petra (PPPK Petra), mulai dari SMA Petra I sampai V, dan yang paling mentereng adalah Universitas Kristen Petra. Selain itu juga terdapat YBPK milik GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan), yang punya 72 cabang di seluruh jawa Timur[4] dan Sekolah Gloria (Sinode GKA Gloria).

Bahkan fenomena di masyarakat akhir-akhir ini memperlihatkan tren baru dimana sinode-sinode Gereja ramai-ramai mendirikan sekolah baik yang teologis maupun sekolah umum. Tujuannya bukan hanya untuk mempertahankan eksistensi mereka, tapi juga untuk memberi “makanan rohani” jemaatnya.

Secara umum, tujuan, yang tercermin dari visi dan misi lembaga pendidikan Kristen, adalah untuk memberikan pendidikan formal akademis yang diselaraskan dan disatukan dengan pandangan dan prinsip-prinsip iman Kristen[5]. Tapi seiring dengan perkembangan badan pendidikan Kristen, sebagian besar diantara mereka mulai kehilangan orientasi kekristenannya. Persepsi masyarakan luar yang menganggap sekolah Kristen hanya didominasi etnis tertentu, maupun biaya pendidikan yang relatif mahal tentu tidak mencerminkan nilai-nilai kekristenan yang sebenarnya. Belum lagi sistem kurikulum dan materi yang diajarkan yang terlalu “market oriented”.

Padahal, sebagai lembaga pendidikan yang menyandang label “Kristen”, sekolah atau universitas Kristen bukan lagi sekadar tempat mengajar kurikulum yang sudah ditetapkan atau mengajarkan nilai-nilai dalam masyarakat semata, tapi juga mengemban amanat agung, yang entah disadari atau tidak, yaitu mengajarkan nilai-nilai dan prinsip iman Kristen.

Namun., kenyataan-kenyataan tersebut akan lebih baik tidak dipandang dengan begitu saja. Jika kita mau sedikit ’melihat lebih dekat” , ternyata ada banyak hal yang wajib kita pertanyakan.

  1. Dari sudut pandang sosio-psikologis, persepsi masyarakat luar yang menganggap beberapa sekolah Kristen besar hanya didominasi etnis tertentu menyebabkan seolah-olah orang Kristen adalah kelompok yang eksklusif bahkan tidak jarang anggapan eksklusivitas itu adalah suatu kesengajaan. Hal ini HARUS menjadi koreksi bagi setiap pihak yang merasa tertuding untuk melakukan perbaikan. Karena logikanya adalah : apabila orang Kristen, apalagi ia merupakan seorang intelektual, terpisah secara sosial dari masyarakat sekitarnya, maka bagaimana  bisa ia menyampaikan injil kesukaan tentang penyelamatan umat manusia? Bisa-bisa orang berburuk sangka terlebih dahulu (apriori).
  2. Masih dari sudut pendekatan ini. Kebanyakan tanggapan / reaksi dari pihak-pihak yang “tertuduh” malah negatif. Mereka malah “meng-amin-i” tuduhan itu dengan mengasingkan diri, cuci tangan dari permasalahan-permasalahan sosial di sekitar, dan seterusnya. Tanpa bermaksud menggeneralisir atau memukul rata, tapi kenyataan ini nampaknya seragam di daerah-daerah, khususnya kota besar.
  3. Dari sudut pandang sosio-ekonomis, pendidikan kita (bahkan sangat mungkin di seluruh dunia) bertumbuh-kembang dalam iklim kapitalisme global. Bak sebuah sistem yang memiliki tujuan yang dipancangkan untuk dicapai bersama-sama oleh sub-sub sistemnya, maka sistem kapitalisme global yang sedang berkuasa (dibuat berkuasa??) saat ini pun memiliki tujuan yang hendak dicapai yaitu melanggengakan kepentingan penguasanya. Sub-sub sistem dari sistem kapitalisme global, yaitu negara, LSM, MNC-TNC, dan sekolah/universitas pun akan ”didesain” untuk melanggengkan kepentingan tersebut. Edward W. Said (1978), dalam bukunya Orientalisme, mengatakan bahwa proses designingtersebut yang terutama adalah lewat Pendidikan akan diupayakan sedemikian rupa untuk menganut epistemologi[6] kapitalisme; cara pandang tentang dunia, kehidupan, hakikat manusia, kehidupan sosial, bahkan preferensi seksual (M. Foucault :1976). Namun diskusi ini tidak akan mempermasalahkan benar atau salahnya epistemologi tersebut, namun lebih kepada apakah itu (epistemologi kapitalisme) sesuai dengan ajaran Kristen atau tidak?
  4. Pertanyaan berikut adalah, masih dalam konteks kapitalisme, apakah pendidikan Kristen di negara kita benar-benar telah memakai kacamata kuda yang dipasangkan penguasa kapitalisme global sehingga kurikulumnya berjalan dalam koridor kapitalisme? Apakah sekolah/universitas Kristen (ikut-ikutan) mencetak ”tukang-tukang” yang mengidam-idamkan pekerjaan di MNC-TNC terkenal? Jika demikian, apakah salah jika kami menyebut sekolah-sekolah (Kristen) ikut-ikutan mencetak “penjajah-penjajah” baru, daripada “penyelamat-penyelamat” bangsa.  Seringkali terjadi dilema dalam masalah pengajaran, berapakah komposisi prinsip-prinsip Kristen yang harus diajarkan, hanya sebagai “pemanis” atau malah dilindas oleh nilai-nilai duniawi karena ketidakmampuan mengintegrasikannya dengan iman Kristen.
  5. Sedikit keluar dari masalah substansi pendidikannya, kapitalisme juga memprasyaratkan persaingan yang laissez faire ( Smith: 1776), sehingga yang patut kita pertanyakan berikutnya adalah : apakah pendidikan Kristen juga ikut-ikut bersaing? Jika ya dalam konteks substansi pendidikannya atau dalam konteks kuota penerimaan siswa/mahasiswanya? Berikutnya apakah persaingan tersebut tetap berada dalam koridor Firman Allah atau malah Firman Allah dijadikan instrumen penarik (marketing strategy)?
  1. Hal terakhir yang patut kita pertanyakan bersama adalah apakah output-output lembaga-lembaga pendidikan Kristen kita kompatibel dan berguna bagi gereja, bangsa, dan bahkan bagi kemuliaan Tuhan? Atau kah mereka hanya akan menjadi ”menara gading” (dan menara doa??) di negeri ini? Ini mengembalikan kita pada asas manfaat, apa manfaat keberadaan lembaga pendidikan Kristen ini bagi umat Kristen khususnya, dan tak lupa bagi masyarakat sekitar dalam skala kecil, maupun bagi bangsa dan negara Indonesia dalam skala luas.

Demikianlah beberapa hal yang patut kita berikan banyak perhatian demi perbaikan (jika masih buruk) atau akselerasi (jika sudah baik) lembaga-lembaga pendidikan Kristen kita. Karena jika bukan kita yang melakukan, jangan harap orang lain akan melakukannya.

Hasil diskusi di atas memang tidak selalu melahirkan pernyataan, tapi justru banyak pertanyaan yang muncul ke permukaan terkait keberadaan lembaga pendidikan Kristen ini. Tapi hampir semua pertanyaan-pertanyaan itu merupakan pertanyaan retoris, yang tidak memerlukan jawaban, karena kita semua sudah tahu jawaban idealnya bagaimana sesuai dengan Iman Kristen.

[1] Amsal 1 : 7  “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”.

[2] Raymond Valiant, “Ketika Pendidikan Kristen Kian Terpuruk”, Majalah Duta (GKJW) edisi Mei 1998.

[3] Dulu bernama Yayasan Pendidikan Kristen Djawa Barat

[4] Majalah Duta (GKJW) edisi Mei 2005, hal.19

[5] Konsep integrasi ini sekaligus merupakan salah satu jawaban dalam menjawab perselisihan pendapat pada masa awal awal pekabaran Injil mengenai mana yang lebih dulu, pendidikan atau pekabaran Injil.

[6] Epistemologi, sedikit mengacu pada Foucault, adalah seperangkat konsep tentang suatu hal dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya; konsep-konsep mengenai definisi, sumber, asal-muasal, dan hakikat