Pahlawan: Apa Faedah Hidupku untuk Orang Lain?

      Comments Off on Pahlawan: Apa Faedah Hidupku untuk Orang Lain?

Saya begitu terharu ketika membaca kisah tentang Dr Jhon Sung yang dikisahkan kembali oleh penulis buku-buku renungan Dr Andar Ismail. Dr Jhon Sung, orang genius yang mendapat catatan khusus dari media di Amerika dan Eropa pada tahun 1920-an selelah dalam usia muda mendapat gelar doktor dalam bidang kimia dari Ohio State University hanya dalam waktu sembilan bulan. la lalu mendapat tawaran dari berbagai perusahaan raksasa. Pemerintah Jerman untuk mengembangkan teknologi roket. Dari kegeniusannya itu ia mestinya menjadi orang besar menyamai ahli fisika relativitas Einstein. Tapi apa yang dia lakukan? Menjadi penginjil hingga ke Indonesia.

Menjadi penginjil, berawal dari pergumulan batin Dr Jhon Sung, la bertanya terus menerus kepada dirinya, Apa faedah hidupku untuk orang lain? Di bidang kimia jelas ia juga dapat bermanfaat bagi orang lain. Tapi kemudian, ketika pertanyaan itu ia perluas: Apa yang aku punya untuk diberikan kepada Tuhan? Jadilah ia menjadi penginjil. la kembali dari Amerika Serikat ke tanah kelahirannya di Fukien, Tiongkok Tenggara. Di sini ia memulai sebagai penyebar firman Tuhan, dengan tekad luar biasa menjelajahi Filipina, Muangthai, Vietnam, Singapura, hingga Indonesia.

Pada tahun 1939 Dr Jhon Sung yang bernama lengkap Jhon Sung Shang Chieh kelahiran 29 September 1901 ini berangkat ke Indonesia. Dalam kondisi tubuhnya yang melemah karena penyakit asma, ia terus berjuang menyebarkan berita Injil terutarna bagi mereka yang belum mengenal Injil. la mengadakan acara Serie Meeting yang terdiri dari 22 pemahaman Alkitab di Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta, Makassar, Ambon, dan Medan.

Mungkin, banyak di antara kita di sini, rnenjadi Kristen berkat Jhon Sung. Memang, bukan cuma Jhon Sung, kita masih bisa menyebut Nomensen dari Jerman yang berkat kerja keras dan pantang menyerah hingga orang di Tapanuli, Sumatera Utara, hampir seluruhnya telah mengenal Yesus, Tuhan kita. Dan, masih banyak lagi tokoh-tokoh penyebar ajaran Yesus, yang dalam kesulitan apa pun tetap menyebarkan firman Tuhan hingga ke ujung bumi.

Kita bicara dalam konteks kepahlawanan. Dalam kamus disebut, pahlawan adalah orang yang gagah berani memperjuangkan kebenaran. Tapi, bagi saya, yang lebih penting pahlawan juga berarti ketika ia menjadi bermakna bagi orang lain, bukan sekedar gagah berani. Banyak yang gagah berani tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya, bukan berani untuk bermanfaat bagi semua orang. Jhon Sung gagah berani untuk, pertama kali, melawan dirinya yang ahli kimia, menjadi seorang misionaris.

Ini jelas membutuhkan tekad yang luar biasa. la berani melawan “godaan” kenikmatan duniawi yang mestinya ia dapatkan sebagai seorang ahli kimia. la, gagah berani menjelajah seluruh pelosok bumi yang paling jauh di pedalaman untuk menjangkau orang-orang yang belum mengenal Kristus. Jangan bayangkan jaman paroh awal tahun 1900-an seperti sekarang dimana Anda dapat menjangkau seluruh bagian dari bumi ini hanya dalam hitungan jam. Jaman itu, naik kuda saja sudah barang mewah. Dan Jhon Sung bukan orang kaya. la hanyalah putra seorang pendeta di gereja Methodis kecil di Fukien, dan ibunya seorang petani. la gagah berani masuk membawa perubahan ke lingkup masyarakat yang mungkin sudah turun temurun mempunyai kepercayaan.

Citra kepahlawan yang terbentuk dalam benak kita adalah orang-orang yang mengangkat senjata, berani mati masuk ke kancah perang. Maka setiap kali kita misalnya mengheningkan cipta mengenang para pahlawan, yang ada di benak kita adalah sosok-sosok pahlawan yang foto-fotonya tercantum dalam buku sejarah dan dapat pengakuan dari negara. Kita mengakui itu sebagai pahlawan yang memperjuangkan hak-hak asasi setiap orang. Tetapi kita juga harus mengenang orang-orang yang dalam kondisi apa pun mengabdikan diri untuk sesuatu yang berguna bagi orang lain. Yang dalam dirinya selalu bertanya, apa faedah hidupku untuk orang lain? Orang yang mempunyai kepedulian dan melakukan sesuatu ketika ia melihat sesuatu yang membuat orang lain menjadi tidak manusiawi. Yang mempunyai kepedulian mengangkat harkat manusia sebagai manusia dan bagian dari alam semesta.

Dalam konteks kekristenan, maka kita juga harus mengenang mereka para martir yang kemudian membuat berita kebenaran Tuhan kian menyebar di atas bumi. Menjadi martir dalam memperjuangkan kebenaran Kristus, menurut saya, jauh lebih berat dibanding sekedar berjuang untuk harkat manusia saja. Sebab, yang diperjuangkan hasilnya tidak cuma kita rasakah di masa hidup ini, tetapi juga di kehidupan setelah kehidupan di dunia int. Untuk menjadi orang seperti Jhon Sung sungguh menjadi membutuhkan keberanian luar biasa. Keberanian bukan sekedar menghadapi ancaman dari dunia tetapi juga menghadapi keinginan diri sendiri. Orang seperti itu tidak mendapat upah atau salam tempel, atau uang transport setiap kali ia menyebarkan firman Tuhan.

Kepahlawanan unluk eksistensi Kristen di Indonesia juga patut kiia mengetahui dan mengenangnya. Tidak terbayangkan kita, umat Kristiani, dapat beribadah dengan lebih bebas saat ini jika seandainya tidak ada orang semacam AA Maramis pada tahun 1945 saat dasar negara ini dirumuskan. Sempat kecolongan hingga keluar rumusan dasar negara Pancasila mengarah pada kepentingan satu golongan saja, karena pengakuan Maramis, ketika rapat pengambilan keputusan tentang rumusan sila pertama itu dibuat, ia sempat ketiduran. Tetapi, berkat lobinya, sila pertama itu kembali seperti yang kita ketahui saat ini. Kita bisa membayangkan kehadiran Maramis bagai berada di kandang serigala saat itu.

Dalam konteks kehidupan di zaman ini, kita pun perlu mengubah citra pahlawan dari frame perang ke setting yang lebih aktual. Dalam kondisi carut marut saat ini, misalnya kita sudah harus memunculkan pahlawan anti anarkis, pahlawan yang gagah berani memperjuangkan kesamaan hak hidup setiap orang dan golongan ai negara ini. Orang yang kritis dan berani menyatakan kebenaran ketika berbagai peraturan perundang-undangan muncul hanya untuk menjepit kepentingan orang lain.

Kita membutuhkan pahlawan yang gagah berani mempertaruhkan nyawa dalam memberantas korupsi. Ini pasti sulit, untuk tidak korupsi saja sudah susah, apalagi memberantasnya. Karena itu, jika ada orang yang berani mempertaruhkan nyawa dalam rnemperangi korupsi, jelas itu lebih luar biasa dibanding mempertaruhkan nyawa di medan perang. Orang seperti itu, pasti selalu bertanya dalam dirinya sendiri: apa faedah hidupku untuk orang lain?

Simon-Lekatompessy-1-e1312000150109

Simon Lekatompessy (Ketua Partai Damai Sejahtera (PDS) Kota Surabaya)

Disampaikan saat Sarasehan Pustaka Lewi memperingati Hari Pahlawan pada 22 November 2008 di Gereja Toraja Surabaya.