Sepanjang manusia hidup, persoalan kehidupan adalah kawan seperjalanan. Bagi sebuah bangsa yang miskin atau tertinggal, kemakmuran atau kesejahteraan merupakan tujuan yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan itu, berbagai persoalan harus dihadapi; pertikaian politik, kesenjangan sosial, keamanan, lingkungan hidup, bahkan tragedi kemanusiaan.

Sementara di negara maju, meski kesejahteraan masyarakat relatif bukan masalah, tetap memiliki persoalan meski berbeda. Di antaranya, masyarakat seakan tidak puas dengan kesejahteraan atau kenyamanan hidup yang dimiliki. Mereka tetap menuntut pemenuhan kepuasan hidup kepada penyelenggara negara. Akhirnya, karena tidak mampu memenuhi dari dalam negeri atau karena tidak mau merusak kekayaan alam yang mereka miliki, mereka pun menjalankan politik ekonomi global yang menyengsarakan negara lain yang masih berjuang demi kesejahteraan.

Inilah ketidakadilan yang harus dihadapi negara miskin hingga berkembang. Tanpa disadari, kebijakan ekonomi yang ditempuh, dengan dalih demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, justru awal dari pemiskinan diri. Misal, masuknya modal asing di sektor pertambangan, selain kekayaan alam terkuras dengan pembagian yang tidak adil, keuntungan hanya dinikmati segelintir orang (para makelar) sementara masyarakat kebanyakan tetap kelaparan karena posisinya tetap di pihak yang lemah.

Dampak dari proses menuju kesejahteraan itu, persoalan politik dan sosial menjadi masalah yang memprihatinkan kalau tidak boleh dikatakan mengerikan. Dan Indonesia nampaknya berada dalam posisi seperti ini. Kalau pun persoalan politik dan sosial merupakan konsekwensi logis dari sebuah pejuangan meraih kesejahteraan, antisipasi terhadap dampak yang mengerikan adalah juga konsekwensi logis dari perjuangan itu juga.

Dalam konteks itulah, perjuangan kebudayaan yang ujung tombaknya adalah seni tradisi berusaha mengawal perjalanan bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur. Geliat seni tradisi yang bergandengan erat dengan kesadaran kebijaksanaan lokal akhir-akhir ini merupakan reaksi dari nilai-nilai global yang seakan benar sendiri. Padalah, nilai-nilai yang dianggap global-universal dan dianggap benar itu belum tentu sesuai dengan kondisi lokal. Apalagi, ada kecenderungan untuk meminggirkan bahkan meniadakan nilai-nilai lokal yang sebenarnya sudah teruji di masyarakat.

Tumbuh suburnya nilai-nilai global yang sebenarnya “kaum pendatang” itu justru menjadikan Indonesia sebagai medan pertempuran di antara mereka untuk menunjukkan diri paling benar. Sialnya, para prajurit yang diturunkan di medan laga adalah anak-cucu Bangsa Indonesia sendiri. Maka persoalan politik dan sosial yang dialami Bangsa Indonesia disebabkan kita sendiri yang tidak memahami atau mem-bumi pada nilai-nilai luhur yang kita miliki.

Seni tradisi, sepintas memang hanya menampakan diri sebagai hiburan, tetapi sebenarnya memiliki nilai-nilai spiritual yang berguna bagi kehidupan. Seni tradisi bukan melulu artistik, melainkan digerakan oleh greget dari pergulatan spritual (estetik). Dan nilai-nilai spiritual itu lahir dari masyarakat itu sendiri melalui proses yang panjang, bukan tiba-tiba ada atau hasil belajar dari pihak lain.

Maka dari itu, seni tradisi harus bergerak untuk membuka pintu yang membawa anak-anak Ibu Pertiwi Indonesia mempelajari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Bagaimanapun, masa kini dan masa depan bangsa Indonesia adalah milik dan juga tanggung jawab dari Bangsa Indonesia sendiri. Kalau kita bersandar pada orang lain, ia akan pergi ketika Indonesia mengalami kegagalan sebagai bangsa.

Dan Indonesia adalah negeri dengan kekayaan budaya dan tradisi yang berlimpah. Ketika kekayaan ini mampu kita manfaatkan sebaik-baiknya maka akan melahirkan kesejahteraan hidup yang sebenarnya, bukan kesejahteraan semu. Dan kalau pun mengalami kegagalan, kita tahu apa harus kita perbuat dan tidak akan menyalahkan pihak-pihak (nilai-nilai) lain.

Pluralisme budaya dan tradisi yang sudah terbukti mampu menyatukan Nusantara ini merupakan modal berharga bagi kelangsungan hidup Bangsa Indonesia. Pluralisme itu terancam ketika nilai-nilai dari luar, entah itu paham ekonomi, agama atau politik mulai menggerogoti nilai-nilai tradisi. Karena itu, tradisi dan budaya ini merupakan mutiara berharga yang harus kita jaga dan lestarikan demi kelangsungan hidup Bangsa Indonesia yang kita cintai ini.

tambahan:
– Seni tradisi sebagai modal dasar pluralisme.
– Mendampingi agar pelaku seni tradisi mampu mengembangkan potensinya, melestarikan, dan pengelolaan manajemen ekonomi.

Lawang, 7 Oktober 2013

My beautiful picture

Fardik Rudiyanto (Komunitas Budaya “Titi Wanci” Malang)