Di akhir tahun 60an sebuah gerakan baru dalam bidang sosial dan intelektual lahir di belahan bumi Amerika Latin. Gerakan itu berakar dari ajaran dan kepercayaan Kristen yang mencari superstruktur ideologinya berdasarkan refleksi religius yang berhubungan erat dengan Organisasi Gereja. Gerakan ini sangat tipikal terjadi bukan hanya di Amerika Latin tetapi juga hampir di seluruh Dunia ketiga serta segala keadaan sosial yang ada dalam penindasan. Bagian dari tatanan keagamaan telah menyetujui bersama pada sebuah ikrar kemiskinan dan untuk tidak memiliki segala properti secara individual, namun pada kenyataannya banyak dari mereka yang telah hidup dalam sebuah standard hidup dan keamanan yang memisahkan mereka dari keadaan agoni yang miskin. Pertanyaan kemudian muncul kepada beberapa orang tentang apa idealnya sebuah kemiskinan dalam situasi di mana kebanyakan dari mereka menderita kemiskinan yang terdehumanisasi, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh Gereja dan para Kristiani tentangnya.

Teologi pembebasan untuk itu lahir dari sebuah peleburan sebagai hasil dari sebuah refleksi disiplin dari ajaran Kristen dan implikasinya. Para teolog yang merumuskan teologi pembebasan biasanya tidak mengajar di universitas ataupun seminari, kebanyakan dari mereka mempunyai kontak langsung dan hidup bersama dengan golongan kaum miskin sebagai para advisor dari para pendeta, suster maupun pastor. Sejak mereka menghabiskan banyak waktunya dengan para kaum miskin, pertanyaan-pertanyaan yang mengusik perhatian mereka tercipta di luar kontak tersebut. Teologi pembebasan mengintrepretasi ajaran Injil dan inti dari doktrin Kristen melalui pengalaman dengan yang miskin. Begitu pula teologi ini membantu para kaum miskin untuk mendalami kepercayaannya dalam sebuah cara yang baru. Ini berhubungan dengan kehidupan Yesus dan Ajaran-Nya. Mereka kaum miskin belajar untuk membaca tulisan-tulisan dalam injil yang menunjukkan harga diri mereka sebagai orang-orang yang juga berharga dan layak untuk berjuang bersama memperoleh sebuah kehidupan yang lebih baik. Kemiskinan orang-orang ini sebagian besar merupakan produk dari bagaimana sebuah masyarakat di bentuk, untuk itulah Teologi Pembebasan juga merupakan sebuah kritik atas struktur ekonomi.

Philip Berryman (1987) menjelaskan bagaimana sebenarnya teologi pembebasan dalam beberapa terminologi. Teologi pembebasan adalah:
1. Sebuah interpretasi kepercayaan Kristen akan semua penderitaan, perjuangan dan harapan bagi mereka yang miskin.
2. Sebuah kritik atas masyarakat dan idologi yang menopangnya.
3. Sebuah kritik atas aktivitas Gereja dan Umat Kristen dilihat dari sisi kaum miskin.

Teologi pembebasan walaupun secara eksplisit disebutkan untuk kali pertamanya di tahun 1968 dalam sebuah pidato seorang teolog asal Peru yang disampaikannya di pelabuhan Chimbate, sudah berakar sejak awal dari gerakan religius dan sosial yang melanda Amerika Latin di tahun 50an. Gereja Katolik pada waktu itu sangat khawatir akan meningkatnya pengaruh dari misionari protestan, pertumbuhan populasi sekularisasi dan penyebaran ideologi Komunis (ini adalah topik yang dibahas dalam rapat pleno pertama CELAM – Konferensi para Uskup Amerika latin- tahun 1955 di Rio de Janeiro). Masalah yang dihadapi Gereja semakin rumit karena kurangnya tenaga clergy untuk melakukan pelayanan bagi kaum miskin di Negara-negara dan partisipasi Gereja yang nampak dengan keadaan sosial yang tidak adil. Golongan pemerintah di negara- negara Amerika Latin tidak mempedulikan rakyatnya dan hanya peduli pada kesejahteraan pribadi saja karena pengaruh kapitalisme asing yang memapankan para penguasa. Semua bentuk resistensi dari rakyat akan satus-quo pemerintah dan perjuangan untuk memeperoleh kehidupan yang lebih baik mendapat perlawanan keras dari penguasa. Mereka yang melawan dan melakukan gerakan subversif diklaim sebagai pemberontak dan komunis. Tidak jarang dari mereka yang melawan ditangkap dan disiksa ketika mulai terlihat tanda-tanda perlawanan, bahkan sampai pada taraf yang terburuk, dimusnahkan. Pada saat yang sama, banyak golongan Gereja yang terpecah ke dalam dua kubu, yakni mereka yang berpihak kepada penguasa dan mereka yang melindungi serta memperjuangkan kaum miskin dan tertindas.

Keadaan sosial inilah yang memberikan kesempatan kepada beberapa gerakan revolusioner di Kuba, Venezuela, Guatemala dan Peru. Di Brasil, para petani menjadi golongan militan golongan menengah radikal bekeija langsung dengan yang miskin. Semua gerakan dan permasalahan ini muncul langsung dari kondisi kemiskinan yang sangat memprihatinkan, yaitu bagaimana hampir 70% dari populasi menjalani hidupnya. Dalam analisis sosio-ekonomi tentang struktur dari masyarakat Amerika Latin, beberapa Kristiani dan misionari mulai untuk menggunakan instrumen marxis, yang tentunya tanpa menggunakan filsafat dialektika materialismenya. Teologi pembebasan menggunakan analisis Marxis sebagai alat untuk melihat kenyataan sosial yang terjadi pada masyarakat Amerika Latin. Bahwa ketidakadilan terjadi sebagai akibat dari perbedaan yang kaya dan miskin. Materialisme historis juga membantu, agar orang tidak terlalu menspiritualisasikan pembebasan dalam tataran spiritual-rohani saja, tetapi juga yang material-insani. Sementara untuk menggunakan teori Marxis sebagai metode ilmiah dalam implementasinya, teologi pembebasan menolak mentah- mentah marxisme sebagai doktrin, ideologi dan praksis filosofis yang materialistis dan ateis. Motor dan inspirasi teologi pembebasan adalah iman Kristen, yang diuji terus-menerus dengan Kitab Suci. Para misionari kemudian mulai mengajukan beberapa pertanyaan tentang bagaimana signifikansi teologi dalam sebuah revolusi sosial.

Dalam konteks religius, momen akan perubahan dan visi baru tentang dunia ini terjadi dengan dikeluarkannya dokumen oleh The Second Vatican Council (1962-1965). Para uskup Amerika Latin kemudian mengeluarkan final documents yang isinya berhubungan dengan perihal pengembangan dan peningkatan manusia sebagai sebuah esensi historis. Dari sini maka muncul sebuah retorika akan sebuah keadaan yang lebih baik dalam hal struktur ekonomi, sosial dan politik melalui sebuah revolusi sosial, seperti yang diungkapkan oleh Bapa Carmillo Torres. Menurutnya, revolusi akan berjalan dengan dengan damai jika golongan kaum elit tidak melakukan resistensi kekerasan dan semua para Kristiani harus ambil bagian di dalamnya. Dalam konteks internasional, para ilmuwan sosial berpendapat bahwa kemacetan pembangunan ditimbulkan secara struktural melalui eksploitasi oleh kekuatan ekonomi asing yang menempatkan Amerika Latin dalam sebuah sistem dependensi terhadap pusat hegemoni. Opresi seperti ini menyebabkan sebuah kekesalan ethis. Oleh karena itu, Paus Paul VI mengkritik tatanan ekonomi internasional, yang secara eksplisit juga mengecam berlakunya sistem kapitalistik-lebih dikenal sebagai social exils- yang memfokuskan sebuah pembangunan lebih melalui konsensus daripada usaha-usaha untuk mencapainya (Gremillion: 1976).

Magna Charta dari pendekatan pastoral yang baru terhadap masalah- masalah sosial menjadi dokumen dari siding pleno CELAM yang ke dua di Medellin, Colombia tahun 1968. Mereka mengajak semua umat Kristiani untuk mengambil peran dalam transformasi masyarakat; mengecam kekerasan yang melembaga dan menamainya sebagai “ keadaan dalam dosa”; menyerukan sebuah renovasi perubahan sosial; perlindungan hak asasi manusia; menyuarakan pertumbuhan kesadaran injili dan menyerukan “comunidades de base” -sebuah gerakan terpimpin Kristen sebagai unit dasar organis dari kegiatan Gereja dan masyarakat. Dokumen ini sering menggunakan terma “Pembebasan” dan membahas hubungan yang saling terkait antara pembebasan dan pelaksanaan injili.

“The Church…has the duty to proclaim the libération of millions of human beings, many of whom are her own children. This is not foreign to evangelization” (Bogota: CELAM, 1969)

Sumber langsung dari teologi pembebasan adalah pengalaman personal beberapa pendeta, pekerja pastoral dan suster yang pada tahun 60an membuat suatu usaha untuk hidup lebih dekat dengan kaum miskin yang menderita dan tertindas. Hal tersebut menumbuhkan refleksi mereka. Seperti misalnya, teolog Brasil, Clodovis Boff menghabiskan satu setengah tahun bekerja bersama para kaum miskin di Negara Acre. Teolog-teolog pembebasan adalah para intelektual organis yang mampu menjembatani batas kelas yang sangat tajam dalam masyarakat Amerika Latin. Guttierez dan para teolog pembebasan yang lain meyebutkan bahwa teologi adalah refleksi sekunder, komitmen pertama adalah untuk bekerja di antara yang miskin. Pergeseran berasal dari spekulasi abstrak dalam menjalankan sebuah kepercayaan. Ini menunjukkan sebuah keutamaan praksis atas abstrak yang berbeda dengan Ortodoksi Katolik.

Umumnya, seorang pendeta berkotbah tentang penerimaan akan kehendak Tuhan dalam sebuah cara dimana diyakini bahwa distribusi kesejahteraan dan kekuatan akan datang sendiri dariNya. Masyarakat petani yang didoktrin dengan cara ini akan menemukan diri mereka dalam sebuah pandangan yang fatal tentang dunia dengan simbol dan rasionalisasinya. Guttierez (1973), untuk itu, menemukan 4 arti kemiskinan: kekurangan dehumanisasi barang-barang material, keterbukaan kepada Tuhan dan komitmen solidaritas. Injil mengerti bahwa kemiskinan material adalah sebuah keburukan yang terjadi karena opresi beberapa orang terhadap yang lain. Oleh karena itu, dokumen Medellin (CELAM:1969) menganjurkan supaya Gereja kaum miskin menentang kekurangan barang yang tidak merata di dunia ini dan dosa-dosa yang menyebabkannya, berkotbah dan menjalankan kemiskinan spiritual sebagai sebuah perilaku keterbukaan spiritual kepada Tuhan dan berkomitmen sendiri atas kemiskinan tersebut. Kemiskinan sukarela adalah termasuk ke dalam sebuah tindakan yang meyatakan cinta kasih dan pembebasan, sebuah solidaritas dengan yang miskin dan mereka yang menderita dalam ketidakadilan. Komitmen ini meyerukan sebuah penyerahan kehidupan yang relatif membahagiakan dan pergi ke daerah pedesaan untuk hidup bersama orang-orang di situ.

Praksis teologi pembebasan menemukan personifikasinya dalam komunitas gereja Kristen. Mereka adalah grup Kristen terpimpin dalam skala kecil yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari Gereja yang dan bekerja bersama untuk meningkatkan kuantitas mereka serta menciptakan masyarakat yang lebih adil. Base Community adalah sebuah grup yang lahir dari permasalahan pastoral sehubungan dengan kurangnya clergy di Negara itu. Komunitas ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap masyarakat. Mereka membuat langkah-langkah inisiatif dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat dengan memberikan mereka pandangan yang luas atas peran dan tempat mereka dalam masyarakat, mereka membantu orang untuk menentukan visi kehidupan mereka serta memotivasi mereka dalam keikutsertaan. Dalam keseluruhannya, komunitas ini tidak sesuai dengan sistem Gereja Katolik yang tradisonal dan vertical dalam otoritas hierarkinya. Dalam beberapa hal, hirarki dan kekuasaan Gereja yang kuat menganggap mereka sebagai ancaman terhadap dominasinya dan menggunakan intimidasi dan kekerasan untuk melawan mereka. Bagaimanapun juga, tidak ada jalan untuk memutar kembali jam yang sudah berjalan. Untuk itulah beberapa keuskupan memasukkan komunitas tersebut ke dalam struktur eklesial umum dan menempatkan mereka pada peran dan kontrol sebagai sebuah sel dalam organisasinya.

Dalam perkembangannya tak jarang banyak pengorbanan yang harus dilakukan karena hambatan dan batu rintangan yang menghadang tidak hanya sekedar batu bata biasa. Tokoh-tokoh teologi pembebasan Amerika latin seperti Uskup Oscar Romero, bahkan harus mati martir-ditembak mati- ketika menjalankan ibadat misa di Gereja Penyelenggaraan Ilahi. Kematian Romero bukannya menyurutkan perjuangan kaum miskin dan teologi pembebasan yang membela mereka. Sebaliknya, teologi pembebasan malah mendapat kekuatan untuk perjuangannya. Mereka menjadikan Romero sebagai sumber inspirasi yang kaya. Mereka sadar bahwa sewaktu-waktu, nasib yang sama akan terjadi pada mereka seperti halnya yang terjadi pada Romero. Hal tersebut seakan mendapat penggenapannya ketika kejadian tragis menimpa di pemukiman Universitas Yesuit. Ignacio Ellacuria, seorang teolog pembebasan yang terkenal dan juga Rektor Universitas, bersama ketiga rekan imam Yesuit, Armando Lopez, Ignacio martin-baro dan Segundo Montes disiksa kemudian diberondong peluru. Dan masih ada sekitar 36 imam dan rohaniwan yang telah martir lebih dulu di antara tahun 1971 sampai 1982. Demikianlah nasib mereka yang dengan teologinya membela kaum miskin. Makin teranglah, bahwa teologi pembebasan adalah sebuah gerakan umat Kristen yang bukan hanya sebatas pada perlawanan tetapi juga pengorbanan dalam penderitaaan dan bahkan kematiannya.

Pembebasan, oleh karenanya menjadi sebuah proses kompleks dan untuk seorang teolog pemebebasan, ini semua berkaitan dengan pengorbanan dalam dimensi manusia, historis dan politik. Bagi seorang ateis, agnostic atau Marxis, proses pembebasan adalah mumi dilihat dari perspektif historis dan tidak lebih. Pengorbanan adalah dimensi transenden buatan dari pembebasan. Gereja Katolik tradisional memandang bahwa kehidupan duniawi kita adalah sebuah fase transitory sebelum menuju ke Surga, dijalankan dalam sebuah peradilan. Tradisi ini bertolak belakang dengan teologi pembebasan yang menekankan bahwa ada kontinuitas antara proses temporal dan transenden absolut. Gereja dan para umat Kristen harus terlibat ke dalam sejarah manusia- sejarah di mana orang menentukan nasibnya.

Teologi pembebasan bukanlah hal yang baru bagi Amerika tengah dan selatan. Gerakan yang sama terjadi di Asia dan Afrika dan di dalam beraneka kebudayaan dengan beraneka kepercayaan dan ideologi. Mereka semua merepresentasikan sebuah reaksi terhadap penyebaran teologi Eropa dan Amerika Utara yang menggunakan opresi dalam praktiknya. Namun Gerakan pembebasan yang terjadi Amerika Latin telah memberikan deskripsi dan konstruksi tersendiri akan makna dari pembebasan itu sendiri. Tidak hanya dalam konteks teologi, teologi pembebasan di Amerika Latin juga telah membukakan mata kita untuk melihat bagaimana sebuah realitas sosial dalam penindasan terjadi dan perlawanannya yang mengarah pada proses pembelajaran demokrasi dan hak asasi manusia Di lain sisi, kekuasaan Gereja dan penguasa yang sangat kuat menjadi sebuah refleksi atas realitas iman Kristen untuk bagaimana berjuang dan melindungi mereka yang tertindas dan hidup dalam ketidakadilan. Pada akhirnya, ajaran Kristuslah yang menjadi fokus sentral dalam implementasi material-insani untuk membebaskan mereka yang miskin dan bersama menuju pada kesadaran reflektif dalam menjalani hidup di dunia.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan kita yang hidup di Indonesia. Banyak sekali masalah berkaitan dengan penindasan yang miskin oleh kelompok-kelompok yang berkuasa, bahkan mungkin mereka yang miskin sudah sangat-terlalu- lelah untuk mempeijuangkan hak dan keadilan mereka. Sudahkah kita, umat Kristen di Indonesia, menjalankan refleksi di atas dalam perbuatan kita? Bagaimana dengan kita, para anak Allah, harus bersikap menghadapi semua ini?

Referensi:
1. Berryman, P., “Liberation Theology. Essential Facts About the Revolutionary Movement in Latin America and Beyond”. New York: Pantheon Books, 1987
2. CELAM, “La Iglesia en la Actual Transformacidn de America Latina a la Luz del Concilio”, Bogota: CELAM, 1969
3. Gustavo Gutierrez, “A Theology of Liberation”. Maryknoll, New York: Orbis Books, 1973
4. “Populorum Progressio” in Joseph Gremillion, ed., “The Gospel of Peace and Justice”. Maryknoll, New York: Orbis Books, 1976
5. Nitiprawiro, Fr.W., “Teologi pembebasan: Sejarah,metode,praksis dan isinya”, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987
6. S.J, Suryawarsita, A., “Teologi pembebasan Gustavo Gutierrez”, Yogyakarta: Jendela press, 2001
7. —–, “Tuhan memihak kaum miskin: edisi teologi pembebasan”, Yogyakarta: Basis, Maret-April 2002

 

*) Disampaikan dalam Forum Diskusi SKK FISIP Universitas Airlangga, Jumat 5 Oktober 2007.

Yesaya Hardyanto
Mahasiswa FISIP Universitas Airlangga