kursusgenderPerbincangan tentang gender, apalagi seksualitas, secara normatif masih dianggap tabu di masyarakat. Padahal keragaman gender, berbagai tipe orientasi seksual, hadir sebagai fakta sosial dan semakin sulit ditutupi karena kemajuan teknologi informasi.

Akibatnya masyarakat gagap menanggapi permasalahan keragaman ini. Kondisi sosial ini yang membuat beberapa unsur masyarakat sipil menginiasi gerakan dalam mengedukasi masyarakat.

Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Yayasan GAYa NUSANTARA, dan Center for Marginal Community Studies (CMARS) pada 29 September sampai 1 Oktober kemarin mengadakan Kursus Gender dan Seksualitas Dasar di Pacet, Mojokerto.

Sejumlah 18 pemuda pemudi lintas iman, lintas lembaga, dan lintas wilayah menjadi peserta kursus ini. Menurut koordinator program, Sardjono Sigit, acara ini bertujuan supaya pembahasan tentang gender lebih terbuka kepada masyarakat. Terkhusus kepada peserta nantinya, diharapkan mempunyai pemikiran yang lebih terbuka dan tidak dari satu sudut pandang saja, serta semoga ke depannya pembahasan gender dan seksualitas tidak menjadi tabu.

Koordinator Divisi Litbang Pustaka Lewi, Andiyan Rianditya, mengikuti kegiatan ini dan  mengatakan bahwa kegiatan semacam ini menarik dan perlu diselenggarakan lagi ke depannya. Dia juga berharap bahwa isu-isu seperti LGBT dan seksualitas, semakin terbuka ruang-ruang untuk diskusi di komunitas masing-masing dan masyarakat secara keseluruhan.

Dilihat dari materi yang diberikan dalam kursus ini, muatan dan sudut pandang yang diberikan para pemateri dan fasilitator sangatlah beragam. Materi tentang seksualitas dan gender misalnya, dibagi menjadi beberapa sesi pembahasan yang terkait dengan keragamannya oleh A. Zainul Hamdi, relasinya diskursus seksualitas dan gender dengan negara oleh Khanis Suvianita, relasinya dengan agama oleh Andreas Kristianto, Imam Nahe’I, dan Aan Anshori, relasinya dengan budaya oleh Diah Ariani Arimbi, dan tak lupa mengenai unsur-unsur HAM di dalamnya oleh Imam Nahe’I dan Khanis Suvianita.

Format acara juga beragam, mulai dari sistem kelas, diskusi kelompok kecil, nonton bersama, dan refleksi oleh seluruh peserta dan pemateri.

Partisipasi Pustaka Lewi sebagai undangan selain dalam rangka meningkatkan kapasitas staf juga dalam rangka menjalin komunikasi dengan lembaga-lembaga dan jaringan yang selama ini berjuang dalam isu gender.