fgdlewi2017_medDiskusi kelompok terarah atau FGD yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pustaka Lewi pada Sabtu (23/09) menetapkan topik tentang bagaimana perspektif umat Kristen tentang perdamaian. Dalam proses diskusi, bahasan menjadi lebih spesifik tentang dimana posisi umat Kristen di tengah pusaran konflik di Jawa Timur akhir-akhir ini.

Dihelat sebagai salah satu rangkaian acara peringatan Hari Perdamaian Internasional yang diinisiasi oleh Forum Inklusi Sosial dan Perdamaian Indonesia (FISPI), FGD ini menghadirkan unsur pemerintahan, perwakilan lembaga pelayanan, media Kristen, gereja, lembaga keumatan, akademisi, dan beberapa aktivis gereja. Baswara Yua Kristama, peneliti dari Perhimpunan Pustaka Lewi, menjadi moderator dan memfasilitasi diskusi yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini.

Erwin Poedjiono Tirtosari, salah satu inisiator FISPI, membuka kegiatan FGD sekaligus memaparkan latar belakang diadakannya rangkaian peringatan hari perdamaian internasional ini mulai 15 s.d. 28 September 2017 di MaxOne Hotel Dharmahusada Surabaya.

Sebagai perwakilan pemerintah, Eddy Supriyanto, S.STP, M.PSDM, Kepala Bidang Kewaspadaan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur menyampaikan pandangannya yang menyoroti potensi disharmoni dan gangguan kamtibmas di wilayah Jawa Timur.

Secara panjang lebar dan mendalam, Eddy memaparkan peta sosial, ekonomi, dan demografi sekaligus potensi terjadinya konflik-konlfik sosial di Jawa Timur. Ajang pemilihan kepala daerah serentak pada tahun depan disebutnya menyedot banyak perhatian karena potensi konflik cukup tinggi. Seperti diketahui, tahun 2018 masyarakat Jawa Timur di 13 kabupaten dan 5 kota menghadapi hajatan poliitk pemilihan kepala daerah ditambah pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Tantangan lain yang harus dihadapai adalah isu terorisme. Hal ini juga berkaitan erat dengan kondisi hubungan antar umat beragama di Jawa Timur. Jika berkaca kepada pengalaman isu pemilihan gubernur DKI Jakarta, Isu-isu konflik antar agama disebutnya bisa menjadi pemicu mobilisasi massa sekaligus menguatkan polarisasi masyarakat. Padahal konflik-konflik keagamaan yang sering kita temui, konflik penolakan pendirian tempat ibadah ataupun isu perpindahan keyakinan misalnya, acap terjadi di Jawa Timur.

Sementara itu Kandi Aryani Suwito, S.Sos., MA. akademisi dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Airlangga membuka penjelasan dari fenomena disseminasi ideologi terorisme yang memperlihatkan perubahan karakter masyarakat. Perubahan masyarakat disebutnya bisa dilihat dari bagaimana perubahan masyarakat dalam mengonsumsi media.

Massifnya ISIS dan kelompok-kelompok intoleran lain dalam menyebarkan ideologinya menyadarkan kita bahwa menjadi masyarakat sebagai suatu informative society tidaklah cukup. Masyarakat harus bertransformasi menjadi knowledge society dimana ada kedalaman dalam dimensi pengetahuan.
Beberapa peserta diskusi menyampaikan nada kekhawatiran terkait semakin sulitnya menciptakan perdamaian di masyarakat. Dimana dan bagaimana peran umat dan seluruh pemangku kepentingan Kekristenan di Jawa Timur juga menjadi refleksi kritis peserta.

Bradlee Nainggolan, ketua cabang GMKI Surabaya, menyampaikan bahwa cita-cita dan peran aktif umat dalam menciptakan perdamaian semakin utopis berkaca dari pengalaman berinteraksi dengan generasi pemuda sekarang. Ekslusivitas dan tingkat kohesi sosial yang rendah menjadi daya penghambat dalam menciptakan suatu gerakan bersama.

Sementara itu Pdt. Natael Hermawan, S.Si., M.BA, sekretaris PGIW Jawa Timur menyoroti dalam konteks dinamika internal Kekristenan juga tidak steril dari berbagai konflik. Esthi Susanti Hudiono dalam kapasitasnya sebagai aktivis juga mengingatkan forum bahwa kondisi kebangsaan kita sudah darurat, mulai bergeser dari kuning ke merah. Hal ini menjadi sebuah tantangan bersama bagi seluruh umat dan gereja bagaimana menciptakan komunitas yang inkusif dan terbuka.