Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-86 pada hari Selasa, 28 Oktober 2014 puluhan elemen pemuda dan masyarakat yang menamakan dirinya “Gerakan Rekonsiliasi Anak Bangsa” mengadakan aksi damai di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Gerakan ini bukannya tanpa alasan. Riuh rendah suasana politik dattn kompetisi perebutan kekuasaan yang menjurus kepada hal-hal tidak sehat mengundang keprihatinan banyak pihak. Dalam konteks Jawa Timur agenda politik ini dinilai juga telah ikut membuat masyarakat terpolarisasi.

Pustaka Lewi sebagai salah satu lembaga dari unsur Kristen dilibatkan sejak awal dalam gerakan moral ini dan selain ikut dalam aksi damai juga membantu proses disseminasi seruan gerakan ini kepada stakeholders dan media di Surabaya.

Melalui gerakan tersebut diharapkan seluruh masyarakat untuk bersatu kembali, dan melupakan sentimen-sentimen politik yang pernah muncul akibat pilihan politik yang berbeda dan menjadikan Sumpah Pemuda momentum yang tepat bagi Bangsa Indonesia untuk kembali bersatu, dan melupakan perbedaan-perbedaan yang ada terang Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Surabaya Nico Mauratu.

Sementara itu Santo Vormen, koordinator dari Pustaka Lewi menilai bahwa seruan moral ini tidak boleh hanya berhenti di sini, namun juga harus diteruskan dalam komunitas masing-masing dan terutama berbagai rekomendasi yang telah dirumuskan diteruskan kepada para pemangku kepentingan di Jawa Timur ini.

Berikut adalah seruan lengkap Gerakan Rekonsiliasi Anak Bangsa:

Peringatan Sumpah Pemuda “GERAKAN REKONSILIASI ANAK BANGSA”

1.Pusham Surabaya (Pusat Studi HAM)
2.GKI (Gereja Kristen Indonesia)
3.Gusdurian Surabaya
4.GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) FISIP Unair
5.KPI JATIM (Koalisi Perempuan Indonesia)
6.Pemuda GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan)
7.SAPULIDI (Persatuan Perempuan Peduli Generasi Indonesia)
8.Gereja Katolik
9.LBH Surabaya (Lembaga Bantuan Hukum)
10.GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) Surabaya
11.DMI (Disable Motor Indonesia)
12.HWDI (Himpunan Wanita Disable Indonesia)
13.CMARS (Centre for Marginalies Community Studies)
14.Retorika FISIP Unair
15.HIMA Sosiologi FISIP Unair
16.HIMA Administrasi Negara FISIP Unair
17.HIMA Ilmu Informasi Perpustakaan FISIP Unair
18.CROSSLINE
19.Yayasan Mariam
20.Dipayoni
21.GEMA INTI (Gerakan Muda Indonesia Tionghoa) Surabaya
22.PPGI Surabaya (Perhimpunan Pemuda Gereja Indonesia)
23.Prajurit Pelangi
24.Paguyuban Semanggi Surabaya
25.Pustaka Lewi (Pusat Data dan Dokumentasi Lembaga-lembaga Gerejawi)
26.YKBS (Yayasan Kasih Bangsa Surabaya)
27.Atas Nama Bangsa
28.Sahabat Pustaka
29.PAS (Paguyuban Arek Suroboyo)

Tahun ini, bangsa Indonesia telah melalui hajatan pesta demokrasi yang cukup panjang, mulai dari pemilihan Kepala Daerah, anggota Legislatif, hingga pemilihan Presiden. Pesta demokrasi ini tentu saja berdampak pada fragmentasi politik di kalangan elit. Hal tersebut wajar adanya, karena di dunia politik praktis selalu ada menang-kalah. Ironisnya, baru-baru ini fragmentasi politik di kalangan elit juga mempengaruhi relasi sosial di masyarakat. Pengaruh tersebut bisa kita rasakan bersama di kehidupan sehari-hari. Tetangga rumah yang selama ini baik dengan kita, tetapi karena pilihan politik yang berbeda, kemudian berubah menjadi sinis terhadap kita. Begitupun sebaliknya, kita terkadang merasa sinis terhadap orang-orang di sekitar yang memiliki pilihan politik berbeda.

Fenomena tersebut nampaknya masih terus terjadi, meskipun bangsa Indonesia telah menyelesaikan hajatan politiknya. Apalagi baru-baru ini masyarakat kita menyaksikan dengan begitu jelasnya fragmentasi politik di saat sidang pengesahan UU Pilkada dan pemilihan Ketua DPR RI beberapa waktu yang lalu. Apa yang dicontohkan oleh elit politik di gedung dewan itu berdampak langsung menjadi sentimen politik antara satu individu dengan individu lain di dalam masyarakat. Jika tidak segera diatasi, sentiment politik tersebut akan berubah menjadi potensi konflik, yang tentunya bakal mengancam keutuhan kita sebagai sebuah bangsa.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, maka kami Gerakan Rekonsiliasi Anak Bangsa mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu kembali, dan melupakan sentimen-sentimen politik yang pernah muncul akibat pilihan politik yang berbeda. Hajatan politik telah selesai, kita kembali menjadi sebuah bangsa yang utuh, Bangsa Indonesia. SUMPAH PEMUDA adalah momentum yang tepat bagi Bangsa Indonesia untuk kembali bersatu, dan melupakan perbedaan-perbedaan di antara kita. Melalui peringatan Sumpah Pemuda ini, kita menginginkan adanya semangat kebersatuan demi menjaga keutuhan Bangsa Indonesia.

Oleh karenanya, maka GERAKAN REKONSILIASI ANAK BANGSA, yang terdiri dari puluhan kelompok masyarakat sipil dengan latar belakang yang berbeda-beda, menyatakan:

1.Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk kembali bersatu dan melupakan sentimen politik yang muncul akibat pilihan-pilihan politik yang berbeda.

2.Menyerukan kepada fraksi-fraksi partai politik di Parlemen agar turut serta dalam menjaga harmonisasi relasi sosial di tengah masyarakat.

3.Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat agar tidak terpengaruh dengan fragmentasi elit politik yang ada di gedung Dewan.

Surabaya, Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2014
Gerakan Rekonsiliasi Anak Bangsa