poster wa

Perhimpunan Pustaka Lewi sebagai salah satu partisipan Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK) mengikuti kegiatan Diskusi Daring yang membahas dampak pandemi Covid-19 terhadap pelayanan Lembaga Pelayanan Kristen (LPK) di kelompok rentan.

Diskusi ini diadakan pada Selasa, 9 Juni 2020, dengan menghadirkan tiga narasumber. Narasumber pertama adalah Pdt. Mazmur Sihite yang merupakan Wakil Direktur Bidang Penelitian & Pengembangan Yayasan Dwituna Rawinala yang menyampaikan perspektif kluster disabilitas. Pembicara kedua adalah Ir. Rambu Atanau Mella Direktur Suara Sanggar Perempuan (SSP) yang bicara dari perspektif perempuan. Ni Gusti Ayu Stiti Sudastri, SE, selaku pengurus Yayasan Widhya Asih adalah pembicara ketiga yang menyampaikan perpsektif kluster anak (LKSA).

Pdt. Mazmur Sihite menyampaikan bahwa lembaganya mendapat dampak langsung dari pandemi ini. Ada empat anak dan tiga orang tenaga pendamping di Rawinala yang positif Covid-19. Dampak lainnya adalah banyak kegiatan yang terhenti atau tertunda. Kunjungan tamu juga berhenti serta dampak sosial dimana ada beberapa karyawan Rawinala yang mendapat stigma dari lingkungannya.

Dalam kondisi yang tidak ideal ini dilakukanlah beberapa strategi, diantaranya adalah menghadapi masalah keuangan atau pendanaan dengan memaksimalkan media sosial dan menyebar informasi langsung melalui WA. Dari aspek medis, protokol kesehatan yang ketat dilaksanakan di lembaga. Pendamping asrama dan telah mendapatkan pembekalan dari tim medis RS Darurat Wisma Atlit dan juga telah mendapat APD yang diperlukan. Kedepannya yang juga penting menurutnya adalah menyusun panduan atau protokol di tempat kerja untuk mencegah Covid-19.

Sementara itu Rambu Atanau Mella menguraikan dampak pandemi terhadap perempuan, anak, dan kaum disabilitas yang disebutnya lebih merasakan dampaknya. Sejumlah tantangan yang dihadapi menurutnya adalah perubahan pola kerja, akses kelompok dampingan terhadap layanan lembaga berkurang akibat physical distancing, layanan pendampingan terhadap korban kekerasan perempuan dan anak juga terhambat. Di sisi domestik rumah tangga dari beberapa temuan di lapangan disebutkan bahwa pendapatan perempuan menurun drastis terutama yang bekerja di sektor riil serta meningkatnya angka KDRT. Strategi dampingan yang diajukannya adalah memodifikasi program agar kelompok dampingan tetap mendapat manfaat, memaksimalkan media cetak dan elektronik, dan melakukan survei online di kelompok dampingan.

Ni Gusti Ayu Stiti Sudastri dari Widhya Asih juga menyampaikan apa saja dampak pandemi ini terutama bagi pelayanan LKSA mereka yang berada di enam tempat di Provinsi Bali dengan jumlah anak asuh yang mencapai lebih dari 200 anak. Pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah anak yang berada di dalam LKSA berkurang 50%. Pandemi ini juga mengakibatkan perubahan strategi pelayanan dan pendanaan. Pola pengasuhan di LKSA akan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat baik untuk anak maupun pendamping. Widhya Asih juga melibatkan peran tenaga kesehatan serta lebih mengintensifkan komunikasi untuk memantau anak melalui platform teknologi komunikasi. Strategi pendanaan mandiri juga akan dimaksimalkan diantaranya meningkatkan ketahanan pangan, penggalian dana unit, expo secara online, dan maintenance donatur.

Dari Perhimpunan Pustaka Lewi yang mengikuti diskusi ini adalah Sonny Saragih selaku ketua Pokja JKLPK dan Santo Vormen.