Kisruh dalam tubuh Sinode Gereja Bethany Indonesia memang sudah menjadi pembicaraan luas masyarakat dan menjadi sorotan banyak pihak. Selain tentunya kita mendoakan dan mendukung supaya kisruh ini segera berakhir, tentu ada proses pembelajaran yang harus dilakukan semua pihak supaya kasus-kasus ini tidak terulang.

Demikian poin-poin penting yang mengemuka dalam Forum Diskusi Pustaka Lewi Surabaya pada Senin (15/09) yang diselenggarakan di Student Center GMKI Surabaya, Jalan Tegalsari 62, Surabaya.

Membuka forum diskusi ini adalah Toga Sidauruk selaku koordinator dan moderator diskusi yang mencoba memberi gambaran awal tentang konflik berlarut-larut yang terjadi di Bethany. Diungkapkannya juga tujuan diskusi kali ini adalah menarik pembelajaran dengan tak lupa memberi partisipasi dukungan supaya konflik ini tidak berlanjut.

Sebenarnya forum ini juga sudah mengundang beberapa pihak yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang dibahas ini, tapi sampai diskusi dilakukan, pihak-pihak tersebut tidak ada yang berkenan hadir dan berpartisipasi dalam diskusi.

Di sesi berikutnya, Santo Vormen dari Perhimpunan Pustaka Lewi mengungkapkan bahwa konflik dalam tubuh gereja, terutama dalam konteks pengelolaan dan manajemen aset, rentan terjadi. Disebutkannya bahwa di belahan dunia lain, kasus-kasus yang terkait pengelolaan gereja juga sedang disorot, misalnya di Gereja Unifikasi Korea Selatan dan City Harvest Church Singapura.

Asumsi awam bahwa persoalan manajemen aset ini hanya terjadi dalam tubuh sinode atau gereja-gereja bercorak pentakosta juga dilihat sebagai pemahaman yang belum tentu benar. Memang pengelolaan kepemimpinan gereja dalam konteks tersebut bisa sangat bernuansa personal, tapi dalam konteks sinode gereja protestan yang besar situasi konflik manajemen aset juga bisa terjadi seperti yang terjadi pada beberapa aset GPIB di Jakarta.

Diungkapkannya juga tentang aspek historis dari konflik-konflik internal keagamaan yang selama ini terjadi di Jawa Timur. Preferensi historis tersebut menunjukkan bahwa jika masalah tidak bisa ditangani secara internal maka negara akan hadir di situ dan ini bisa menjadi hal yang positif, tapi juga bisa berakibat negatif.

Beberapa peserta diskusi juga mengungkapkan bahwa konlik ini berimbas juga pada bidang-bidang pelayanan di lapangan dan mengundang banyak pertanyaan juga dari komunitas agama lain mengingat kasus ini sudah masuk dalam wilayah hukum.

Salah seorang peserta diskusi yang aktif melayani di suatu instansi penegak hukum mengungkapkan pendapat berbeda dengan menegaskan bahwa seharusnya kita tidak boleh mencampuri urusan internal gereja Bethany. Kepemimpinan gereja yang dianggap bersumber dari Tuhan yang kemudian dikomentari dan dikritisi oleh pihak luar disebutnya malah akan bedampak buruk bagi Kekristenan secara keseluruhan.

Pandangan peserta diskusi tersebut cukup menarik untuk diamati bukan hanya sebagai sebuah pandangan personal, tapi pandangan tersebut juga ada dalam sebagian umat yang memandang ada dikotomi antara urusan duniawi (sekular) dan rohani. Jika boleh disebut maka pandangan yang bersifat esoterik tersebut juga mempunyai implikasi yang cukup rentan penyalahgunaan dan semakin memperkuat otoritas sekelompok orang. Dalam pemahaman demokrasi kontemporer seyogyanya partisipasi semua pihak dan golongan mutlak diperlukan dan dianggap setara.

Ada beberapa pembelajaran dari forum diskusi ini yang mungkin tidak bisa menjawab atau menyelesaikan seluruh persoalan, tapi setidaknya menjadi saluran dari kegelisahan umat Kristen secara keseluruhan. Salah satu diantaranya adalah pentingnya kejelasan dan komitmen dalam pengelolaan gereja. Dari sisi mentalitas dan karakter umat juga harus terus mendapat masukan yang konstruktif dengan salah satu caranya adalah tidak alergi terhadap kritik. Keberadaan umat Kristen dan Gereja dalam masyarakat dan dunia harus menjadi kesaksian hidup yang benar dan bisa menjadi teladan bagi semua pihak.